• IRUL ANACHDURHACHA ORADOMADFU

    ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ ___000000________000000___ 000000000000__000000000000 _0000000000____0000000000_ __00000000______00000000__ ___000000________000000___ ____0000__________0000____ _____00____________00_____

  • FACEBOOK TAMBAK LOROK / TAMBAK MULYO TANJUNGMAS SEMARANG

    Tambak Lorok merupakan salah satu daerah pantai di kota Semarang yang terletak di Sungai Banger, kelurahan Tanjung Mas, sekitar tahun 1950 pada kawasan ini muncul sebuah pemukiman yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian mencari ikan dan hasil laut lain atau sering disebut sebagai nelayan

  • Richa Rahmawati Oradomadfu (Amirricha Comunity)

    richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id richa_fila@yahoo.co.id

  • Cahayahilang Tenggelamdalam Penyesalanabadi

    !________________.♫♥._____________ !________________.♥♫♥.____________.♥. * .* .. !________________.♥♫♥♫.______-.♥♫♥. * .* . * . !________________.♥♫♥♫♥._-.♥♫♥♫. * .* . !_______________.♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥. * . * . * . * . !__________-.♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥. * .* .. !_____.♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥. * . * . * . * .. !__________-.♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥. * . * . * .. !_______________.♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥. * . * . * .. !________________.♥♫♥♫♥._-.♫♥♫♥. * . *. * . * .. !________________.♫♥♫♥.______-.♥♫♥. * .* .. !________________.♥♫♥.____________.♥. * . *. * . !________________.♫♥._______

Tampilkan postingan dengan label info dan berita tambak lorok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info dan berita tambak lorok. Tampilkan semua postingan

Rencana pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas akan memunculkan dua opsi bagi warganya yakni bertahan atau relokasi.

LIHAT VIDEO KLIK DISINI

Rencana pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas akan memunculkan dua opsi bagi warganya yakni bertahan atau relokasi.

Hal tersebut dikemukakan Kasubid Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Bappeda Kota Semarang Budi
Prakosa, pemkot tetap berupaya supaya warga Tambaklorok tetap bisa menjalankan
profesinya sebagai nelayan. Sedangkan soal kawasan tersebut kemungkinan besar tidak
bisa lagi dipertahankan.

Ini masalah pelik. Dari dua opsi itu, lanjut Budi, bila warga memilih bertahan maka
mereka akan sulit untuk ke laut.

Dengan pengembangan pelabuhan internasional, otomatis akses warga ditutup oleh
pelabuhan.

Dia menjelaskan, Pelabuhan laut internasional tidak boleh ada perahu kecil yang
berlalu lalang di sekitar perairan pelabuhan. Ini terkait keselamatan dan aturan
internasional.

Pihak Pemkot pun tidak bisa berbuat banyak terhadap akses keluar masuk masyarakat,
Pemkot hanya bisa memberikan rekomendasi dan tidak bisa mengubah putusan kebijakan.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion, tentang "Meneropong Rencana
Perluasan Pelabuhan di Tambaklorok dari Prespektif Ekologi dan Keadilan", Rabu
(26/10) di lantai 8 Gedung Unisbank Semarang.

Akademisi Fakultas Hukum Unisbank Sukarman mengatakan, Tambaklorok perkampungan
nelayan yang terbesar di Semarang. Jika benar akan direlokasi dia menyayangkan,
karena mereka merupakan penghasil sumber protein bangsa dan sebagai penyedia produk
perikanan bagi masyarakat yang sebagian besar dihasilkan dari nelayan kecil.

Mereka harus diproteksi. Kalau memang jadi dipindah, maka Bappeda harus mengkaji
sejauh mana penataan Tambaklorok. Paling tidak ada dua kajian, yaitu kajian tata
ruang dimana di dalam PP Tata Ruang Wilayah Nasional sejauh 100 meter  adalah garis
sepadan pantai untuk menjadi benteng mencegah abrasi dan kerusakan laut.

Kajian lainnya, secara ekonomi jangan sampai kontradiktif dilain pihak Kementerian
Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 untuk mencapai sebagai negara terbesar dalam
penghasil produk perikanan.  

Sementara itu Direktur LBH Semarang Slamet Haryanto menyoroti dampak dari relokasi
yaitu nelayan akan kehilangan hak atas pekerjaan mereka karena sangat berpengaruh,
jika nanti perluasan Pelabuhan Tanjung Emas akan menjadi masalah jika
nantinya akan dipindahkan ke wilayah yang bukan wilayah pantai.

Kedua berdampak bagi warga Tambaklorok adalah hak atas perumahan karena rata-rata
sebagian mereka telah mempunyai sertifikat.

Reporter & Kameraman: Ranin Agung
Dubber: Tiko Septianto
Editor Video: Aminudin


http://www.suaramerdeka.tv/view/video/30906/nasib-kampung-tambaklorok-semakin-di-ujung-tanduk

PENATAAN PEMUKIMAN NELAYAN TAMBAK LOROK SEMARANG




Tambak Lorok merupakan salah satu daerah pantai di kota Semarang yang terletak di Sungai Banger, kelurahan Tanjung Mas, sekitar tahun 1950 pada kawasan ini muncul sebuah pemukiman yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian mencari ikan dan hasil laut lain atau sering disebut sebagai nelayan.
 Dengan adanya fenomena bahwa masyarakat yang bermukim di kawasan ini memiliki ketergantungan terhadap Natural Resources (sumber alam) dalam hal ini laut sebagai tempat mencari ikan, sungai dan muara sebagai tempat menambat perahu dan keluar masuknya perahu ke laut, dalam hal ini telah menyatu dengan kehidupan kebudayaan masyarakat serta berlangsung turun menurun maka pemukiman ini lebih dikenal dengan Pemukiman Nelayan. Pada dasarnya bahwa pemukiman ini muncul karena ada keterkaitan tiga variable yang mempengaruhi masyarakat untuk tinggal pada kawasan ini, yaitu :
 1.    Lokasi
 Posisi pada kawasan ini merupakan bagian dari aktivitas ekonomi yang cukup penting penting, karena aktivitas kawasan merupakan bagian dari aktivitas ekonomi kota Semarang. Adanya relasi yang kuat ini menunjukkan nilai strategis kawasan, dengan orientasi laut dan kawasan sekitar sebagai sasaran aktivitas.


 2.    Jarak
 Dengan orientasi laut dan kawasan sekitar sebagai sasaran aktivitas, maka jarak terhadap kawasan akan menampilkan hirarki intensitas aktivitas. Jarak lokasi kerja penduduk kawasan rata-rata kurang dari tiga km. jarak ke tempat aktivitas tersebut berkaitan erat dengan intensitas network atau jaringan kerja kawasan.
 3.    Sarana Pencapaian
 Lokasi dan jarak ke tempat aktivitas sangat berpengaruh terhadap sarana pencapaian atau sarana transportasi yang digunakan. Sehubungan dengan relatif dekat jarak dan lokasi ke tempat aktivitas maka sarana pencapian masyarakat ke tempat kerja kebanyakan ditempuh dengan berjalan kaki dan sepeda.
 Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat nelayan tersebut lebih memilih tempat tinggal di Tambak Lorok karena pertimbangan kedekatan dengan lokasi kerja.
 Dengan adanya karakteristik sosial pada masyarakat nelayan ini maka terdapat suatu karakteristik positif yaitu dari segi kehidupan dan penghidupan pendidikan dominant di sektor informal telah mengisi dan melayani berbagai kegiatan dan kebutuhan kota yang tidak mungkin dilakukan oleh kelompok atau golongan mapan di kota. Pola hidup bersama yang masih relatif kental merupakan potensi yang perlu dipertimbangkan untuk pengembangan dimasa depan. Penduduk kawasan ini merupakan bagian dari sub sistem kota, yang peranan dan fungsinya berpengaruh besar terhadap kehidupan kota. Pada tahun 2002 dengan luas usaha perikanan 2 Ha menghasilkan hasil usaha perikanan 1800 ton, hal ini didukung oleh salah satu sarana pemukiman nelayan yaitu TPI, yang mampu menampung seluruh hasil tangkapan ikan yang diperoleh penduduk setempat.
 Namun demikian terdapat suatu fenomena kehidupan pada masyarakat di kawasan ini. Dengan latar belakang pendidikan yang rendah masyarakat nelayan Tambak Lorok memiliki cirri ketradisionalan yang masih melekat, terutama dapat terlihat pada metoda yang digunakan untuk usaha mereka yaitu penangkapan ikan, hal ini mempengaruhi kondisi sosial ekonomi mereka yang minim.
 Kondisi sosial masyarakat yang minim mengakibatkan terbentuknya suatu lingkungan pemukiman yang belum memenuhi aspek kesehatan, teknis, kelestarian lingkungan hidup, ekologi, dan iklim. Akibat kekurang perhatian terhadap aspek tersebut maka kesan kumuh terlihat pada site dan ekspresi bangunan pada kawasan ini. Pada tahun 2002 laporan Monografi kelurahan Tanjungmas, pada kawasan ini terdapat data yang menyebutkan bahwa jumlah rumah dengan kriteria :
 1. Permanen 635 buah
 2.    Rumah semi permanen 1.168 buah
 3.    Rumah non permanen 1.487 buah
 Sehingga dengan jumlah rumah non permanen yang mendominasi, dapat terlihat bahwa kawasan ini belum lepas dari kesan kumuh.
 Dan dalam perkembangannya, pemukiman nelayan dihadapkan pada tuntutan kebutuhan akan dapat tertampungnya kegiatan-kegiatan kehidupan masyarakat yaitu kegiatan kerja sebagai masyarakat nelayan baik continue maupun tertentu. Dalam hal ini adalah penyediaan sarana dan prasarana lingkungan yang akan menunjang perkembangan lingkungan pemukiman tersebut dengan adanya keberadaan fasilitas sosial dan fasilitas perekonomian.
 Disisi lain motivasi untuk meningkatkan taraf hidup dari para nelayan telah tumbuh dengan baik karena memiliki keinginan hidup di lingkungan lebih banyak yaitu sehat, aman, dan nyaman atau dengan kata lain memperhatikan aspek-aspek yang tersebut diatas. Dan pada kenyataannya mereka berupaya keras untuk mencapai harapan dan keinginan tersebut. Hal ini ditunjang sarana transportasi sungai yang lancar.
 Berdasarkan uraian diatas, kawasan Tambak Lorok membutuhkan pembenahan dan penataan lingkungan pemukiman nelayan tersebut dengan memperhatikan tuntutan pengembangan sesuai dengan potensi yang ada hal ini ditekankan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perbaikkan lingkungan dan peningkatan kualitas hunian dan lingkungan pemukiman yang dimulai dari fasilitas dasar lingkungan. Karena pada dasarnya pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.
 Lokasi pemukiman ini sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota Bagian Wilayah Kota III, untuk rencana penanganan bangunan yang akan dibangun terutama dengan adanya suatu kebijaksanaan dari Pemerintah Daerah tingkat 1 Jawa Tengah bahwa adanya kepastian status hukum terhadap kawasan Tambak Lorok, dengan ditandanganinya Berita Acara No. H.H.006/1/13/TMS/2000, tentang
 No. 590/1773/2000
 Serah Terima Hak Atas Penggunaan Tanah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang di Kampung Tambak Lorok Semarang Kelurahan Tanjung Emas Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang, pada hari Sabtu tanggal 15 April tahun 2000
 Dengan ditandatanganinya berita acara ini maka penduduk Tambak Lorok memiliki hak penuh terhadap tanah di daerah ini.
 Disamping itu sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah tingkat 1 Jawa Tengah yaitu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat ekonomi lemah maka Pemerintah tingkat 1 mengalokasikan dana untuk pemukiman nelayan dalam rangka mengentaskan kemiskinan di Jawa Tengah khususnya.
 Dan Undang-Undang RI no.4 tahun 1992 pasal 4 yaitu Penataan perumahan dan pemukiman bertujuan untuk :
 a.    Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.
 b.    Mewujudkan perumahan dan pemukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur.
 c.    Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional.
 d.    Menunjang perubahan di bidang ekonomi, sosial dan budaya, dan bidang lain.
 Serta pasal 5 ayat 1, yang berbunyi : “setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sahat, aman, serasi. Dan teratur”.
 Konsep penataan yang digunakan menitikberatkan pada penanganan permasalahan kawasan, potensi kawasan dan pendekatan perancangan kawasan sebagai kunci sukses, yang meliputi : tema, image/citra, keaslian, fungsi pengalaman, membentuk opini masyarakat, penilaian lingkungan, aspek teknologi, pembiayaan dan pengelolaan (waterfront development) dan pendekatan terhadap perancangan bangunan menggunakan Arsitektur Ekologis yang mengacu pada hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan.

 1.2.    TUJUAN DAN SASARAN
 1.2.1.    Tujuan
 Tujuan utama yang akan dicapai adalah menata pemukiman nelayan Tambak Lorok dengan memperhatikan tuntutan pengembangan sesuai dengan potensi yang ada sehingga akan terjadi suatu perbaikan lingkungan dan peningkatan kualitas hunian dan lingkungan pemukiman yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.
 1.2.2.    Sasaran
 Sasaran yang hendak dicapai adalah menyusun & merumuskan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang bertitik tolak dari judul pembahasan penataan pemukiman beserta sarana dan prasarana secara terintegrasi dan sesuai dengan konteks lingkungan.

 1.3.    MANFAAT BAHASAN
 Manfaat yang akan diperoleh dalam pembahasan ini sebagai berikut :
 1.    Secara Obyektif
 a.    Konsep pengembangan yang menitikberatkan pada penanganan permasalahan dan potensi dengan mengacu pada pendekatan perencanaan Arsitektur Ekologis dapat sebagai masukan bagi pemerintah kota Semarang dan pihak yang berwenang.
 b.    Menjadi kontribusi sendiri terhadap pembangunan sektor perikanan sebagai salah satu sektor perekonomian negara dalam upaya mendukung pendapatan asli daerah setempat.
 2.    Secara Subyektif
 a.    Penyusunan makalah ini digunakan sebagai Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang akan dilanjutkan dalam bentuk desain grafis.
 b.    Sebagai salah satu persyaratan mata kuliah Tugas Akhir (TA8649) yang harus dipenuhi untuk kelulusan sarjana strata 1 (S1) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

 1.4.    RUANG LINGKUP
 Ruang lingkup penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Penataan Pemukiman Nelayan Tambak Lorok Semarang mempunyai penekanan pada penanganan permasalahan dan potensi kawasan Tambak Lorok.
 Analisis mengenai perancangan kawasan menggunakan pendekatan Arsitektur Waterfront. Aspek-aspek yang berkaitan dengan elemen-elemen pembentuk kawasan, aspek estetis dan struktur kawasan akan diuraikan sebagai satu kesatuan ruang yang berkesinambungan (continous space). Sedangkan langgan Arsitektur yang diangkat adalah Arsitektur Ekologis yang mengacu pada hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungan.

 1.5.    METODOLOGI BAHASAN
 Metodologi bahasan yang akan digunakan dalam pembahasan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur adalah deskriptif analitis yaitu dengan memberi suatu penjelasan dan menguraikan tentang data-data yang didapatkan baik data primer maupun data sekunder kemudian dianalisis dengan mengacu pada konteks permasalahan yang muncul. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan wawancara. Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari data statistic dan kepustakaan yang berkaitan dengan aspek perikanan dan penanganan permasalahan dan potensi kawasan perencanaan.

 1.6.    KERANGKA BAHASAN
 Kerangka dan bahasan dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan (LP3A) Penataan Pemukiman Nelayan Tambak Lorok ini meliputi :
 BAB I    Pendahuluan
 Yang akan menguraikan tentang tema umum penataan pemukiman nelayan Tambak Lorok Semarang, yang didalamnya meliputi latar belakang, tinjauan dan sasaran, ruang lingkup yang membatasi masalah, metodologi pembahasan yang dipakai, serta kerangka bahasan yang berisi tentang pokok-pokok pikiran pada setiap bab yang ada.
 BAB II    Tinjauan Pustaka
 Berisi tentang teori-teori umum yang menunjang analisa untuk perencanaan dan perancangan penataan pemukiman nelayan Tambak Lorok.
 BAB III    Tinjauan Umum Pemukiman Nelayan
 Berisi tentang teori-teori yang digunakan untuk mendukung perencanaan dan perancangan penataan pemukiman nelayan Tambak Lorok Semarang menjadi suatu pemukiman yang memiliki peningkatan kualitas pemukiman.
 BAB IV    Tinjauan dan Potensi Pemukiman Nelayan Tambak Lorok Semarang
 Berisi tentang deskripsi kondisi dan potensi kawasan pemukiman Tambak Lorok, baik fisik maupun non fisik yang mengarah pada penataan pemukiman nelayan Tambak Lorok Semarang sebagai pemukiman yang memiliki peningkatan kualitas pemukiman.
 BAB V    Analisa Pemukiman Nelayan Tambak Lorok
 Akan diuraikan analisis-analisis yang bersifat penajaman terhadap materi yang dikaitkan dengan konteks lahan perencanaan. Materi yang dianalisis yaitu analisis perencanaan yang meliputi pengembangan kawasan lokasi dan tapak, kapasitas, aktivitas, dan fasilitas sedangkan analisa perancangan meliputi analisa penerapan meliputi analisa penerapan konsep pendekatan kawasan serta langgam arsitektur bangunan.
 BAB VI    Batasan dan Anggapan
 Berisi tentang batasan dan anggapan yang dihasilkan dari analisis dan akan diterapkan pada Program Perencanaan dan Perancangan.
 BAB VII    Pendekatan Perencanaan dan Perancangan Penataan Pemukiman Tambak Lorok Semarang
 Yaitu berisi tentang uraian yang berisi tentang uraian yang berkaitan tentang karakter pelaku baik macam maupun aktivitasnya, karakterisitik tentang pemukiman nelayan, luas lahan yang digunakan, fasilitas yang dibutuhkan, jenis struktur dan bahan bangunan yang akan dipakai sesuai dengan karakter fisik lahan yangakan dicapai. Pendekatan perancangan kawasan menggunakan pendekatan arsitektur waterfront dan teori-teori pengintegrasian, sedangkan pendekatan terhadap perancangan bangunan menggunakan langgam Arsitektur Ekologis.

 BAB VIII    Program Perencanaan dan Perancangan Penataan Pemukiman Nelayan Tambak Lorok Semarang
 Berisi program perencanaan dan dasar-dasar perancangan suatu penataan pemukiman nelayan dengan tetap memperhatikan konteks lingkungan dan sekitarnya.


by. http://eprints.undip.ac.id/21600/
admin: Irul Anaxdurhacha Oradpomadfu

Namanya Bukan Tambak Lorok Tapi Tambak Parah!




Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Sewaktu kami melakukan program penyuluhan mangrove kami di kawasan Tambak Lorok, Kecamatan Semarang Utara, kami sempat bertemu dengan Ketua RW setempat yang berniat “mengusulkan” pergantian nama atas kawasan Tambak Lorok, sembari menceritakan mengenai kondisi menyedihkan yang kini dialami oleh warganya. Menurut dia, semenjak dia tinggal di kawasan ini, sedari kecil hingga sekarang, keberadaan hutan mangrove yang dulunya lebat, kini tiba-tiba menghilang menjadi area pertambakan yang sangat luas. Hilangnya hutan mangrove, menyebabkan kondisi pemukiman warga Tambak Lorok di tahun 2010 ini, menjadi terancam. Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena tak hanya abrasi pantai saja yang menjadi-jadi, pemukiman wargapun juga sudah mulai tertelan air laut, yang menyebabkan beberapa KK kemungkinan telah dan akan direlokasi (lagi) ke tempat lain yang lebih aman.

Area pertambakan di Tambak Lorok yang kini berubah menjadi lautan, tak ubahnya sebuah cerita pilu nan mengenaskan, yang juga dialami oleh kawasan pesisir Tugu Semarang, Trimulyo Semarang, Bedono Demak, Bulak Lama Jepara, Mengare Gresik dan beberapa titik lainnya di seluruh Indonesia, yang telah sempat kami kunjungi, yang mulai terkena dampak langsung akibat keserakahan manusia dalam mengeruk sumberdaya alam pesisirnya, dengan cara membabat hutan mangrovenya. Hilangnya hutan mangrove, telah membuat gelombang-dahsyat-lautan begitu leluasa menggempur daratan sehingga menyebabkan abrasi dan erosi pantai, juga menelan korban puluhan bahkan ratusan hektar tambak dan pemukiman penduduk. Selanjutnya, yang menyedihkan lagi di Tambak Lorok adalah sikap pasif baik warga dan dinasnya yang seolah-olah telah kehilangan akal, bagaimana lagi caranya, agar tambak, daratan dan pemukiman warga bisa terselamatkan. Faktanya, sejauh mata memandang, memang sudah tidak ada lagi sabuk hijau pantai berupa mangrove, kecuali timbunan sampah dan alat pemecah gelombang yang dibangun dengan konsep “serampangan”.

Melihat kondisi pesisir Tambak Lorok yang sudah teramat parah ini, maka program penanaman mangrove (lihatlah foto di atas, di saat kami mendampingi program percontohan penanaman sedikit-bibit-Rhizophora ke kaum muda Tambak Lorok, dengan tujuan hanya untuk mendidik dan menyemangati jiwa konservasi mangrove mereka, agar kasus-kasus reklamasi dan konversi lahan mangrove tidak terus terjadi) bisa jadi adalah sebuah solusi yang nampaknya akan menjadi sia-sia belaka. Untuk itulah, sebelum mangrove ditanam, maka pembangunan sea wall layaknya di negeri Kincir Angin, mau tidak mau sudah harus mulai dikaji implementasi pendiriannya di lokasi ini. Kembali ke pernyataan di atas, apabila melihat kenyataan ini, maka tidak salah kiranya, apabila Bapak RW setempat begitu niatnya untuk mengganti nama Tambak Lorok menjadi Tambak Parah!

Makam Tambaklorok Terancam Hilang

29 Januari 2009
Makam Tambaklorok Terancam Hilang
SEMARANG UTARA- Akibat dihantam gelombang pasang, tempat permakaman umum (TPU) Tambaklorok di Kelurahan Tanjungmas, terancam hilang. Kini TPU tersebut telah berada persis di bibir pantai. Talut penahannya telah ambrol, beberapa makam nyaris hilang.

Pantauan Suara Merdeka, Rabu (28/1), sejumlah warga membenahi makam yang ambrol. Mereka menata bongkahan tanah dan batu di lubang makam yang dihantam gelombang. Sementara sampah dari laut berserakan di area itu.

Menurut juru kunci makam, Sukarmin (85), kerusakan TPU akibat dihantam gelombang pasang sekitar dua pekan lalu. Gelombang setinggi 3 meter dari permukaan laut itu menghancurkan talut penahan yang selama ini menjadi benteng terakhir makam. Tak hanya itu, beberapa buah makam juga hancur.

Patok dan lapisan tanah bagian atasnya hilang. Para ahli waris makam tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya melakukan upaya darurat agar makam keluarga tidak hilang. Upaya itu antara lain dengan memasang terucuk bambu di bibir pantai, serta menguruk lubang makam dengan bongkahan tanah dan batu.

Sukarmin mengatakan, mengingat musim angin barat yang menimbulkan gelombang laut besar berlangsung hingga bulan April, kerusakan area makam lebih parah masih mungkin terjadi. Hampir setiap malam, ombak besar menghajar kawasan pantai, termasuk area permakaman.

TPU Tambaklorok terletak sekitar 300 meter di sebelah selatan pelabuhan pendaratan ikan. TPU itu menampung jenazah warga dari beberapa kelurahan, seperti Tanjungmas, Kemijen, dan Tambakharjo.

Semula, TPU Tambaklorok berada di tengah areal pertambakan. Namun sejak 2006, sedikit demi sedikit, area tambak itu hilang dihantam gelombang.

“Dulu pantainya sekitar 400 meter dari makam. Karena digerus gelombang, area makam jadi langsung berbatasan dengan laut. Kalau kondisi ini dibiarkan, tidak lama lagi makam ini bakal hilang,” kata Sukarmin, Rabu (28/1).

Untuk mengatasi abrasi di kawasan itu, warga pada 2006 telah mengajukan proposal pembangunan dam penahan gelombang sepanjang 1 km. Rencananya dam itu membentang dari PPI hingga sebelah barat Kampung Tambaklorok.

“Dulu sempat ada kabar proposal disetujui dan dananya turun pertengahan 2008. Tapi kenyataannya hingga sekarang tak ada kejelasan,” ujar Sokah (50), warga Tambaklorok.(H6-18)

PPI Tambaklorok Tak Serius Digarap





Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang Ari Purbono menilai Pemkot tidak serius garap Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tambaklorok. Saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (22/1), dia melihat keberadaan PPI tersebut kurang maksimal. Akibatnya, masyarakat nelayan tentu jadi bertanya-tanya.

"Sebenarnya pemerintah sudah berusaha dengan pernah memperbaiki jalan atau akses ke PPI. Tapi tentunya, tak sekadar itu, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana petugas yang di sana bekerja dan mekanisme pengelolaan untuk mengoptimalkan PPI," ujar Ari.

Menurutnya, bangunan itu sekarang tak banyak berfungsi. Bahkan, pihaknya mendapat informasi jika PPI justru jadi tempat nongkrong para remaja, sedangkan sebagian bangunannya telah rusak. Ari sendiri mengungkapkan, jika pihaknya telah berulang kali melakukan evaluasi.

Namun, sejauh ini tak ada ketegasan dari pemerintah. Kondisinya masih tetap saja sama. Bahkan, kondisi itu kemungkinan masih akan terjadi hingga tahun ini mengingat saat pembahasan APBD 2011 lalu tak ada anggaran untuk tempat itu. "Kerjasama dengan pihak ketiga memang sampai 2017, tapi bentuknya seperti tidak begitu jelas. Sikap pemerintah untuk mengoptimalkan tempat itu terkesan setengah-setengah. Bahkan sekarang sepertinya pemerintah menyerah," tegasnya.

Terpisah, Kasubag PU PPI Tambaklorok, Jayadi, mengatakan, saat ini proses optimalisasi PPI Tambaklorok baru diusahakan. Pihaknya berupaya mengembangkan PPI sebagai wisata bahari. "Fungsi pokoknya tetap sebagai PPI. Tapi dengan arah wisata bahari, diharapkan para nelayan dapat mengajak masyarakat berwisata ke laut," ujarnya.

Nelayan Tambak Lorok Tetap Gunakan PPI Lama









Nelayan Tambak Lorok Tetap Gunakan PPI Lama
SEMARANG- Para nelayan Tambak Lorok tetap menggunakan Pusat Pelelangan Ikan (PPI) lama untuk menjual hasil tangkapannya. Hal ini karena sungai di PPI yang baru dangkal, sehingga nelayan kesulitan merapatkan kapalnya.

Tambak Lorok yang berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara ini biasa dipakai sebagai tempat nelayan untuk melabuhkan perahunya baik dari daerah Semarang ataupun luar kota untuk mencari nafkah. Mereka biasanya menjual hasil tangkapan seperti udang, rajungan, dan ikan-ikan kecil di sana.

”Sejak dibangunnya tempat pelelangan ikan yang baru kami tetap menggunakan tempat pelelangan yang lama untuk menjual hasil tangkapan,” ujar seorang nelayan warga Tambak Lorok, Zamroni(50).

Alasan nelayan tidak mau memanfaatkan PPI Tambak Lorok yang baru, karena air sungai di sana dangkal dan jalannya tidak dapat dilalui. Kedangkalan tersebut dikarenakan banyak sampah yang menghambat arus air sungai, sehingga perahu sulit merapat. Padahal, banyak sekali nelayan dari luar kota yang mencari ikan dan berlabuh di Tambak Lorok. Hampir 100 nelayan dari luar kota seperti Demak, Pemalang, hingga Surabaya masuk ke Tambak Lorok.
”Saya lebih suka di sini karena hasil tangkapan lumayan. Cuma sayang, tempatnya kurang bagus dan keadaan sungai juga dangkal,” ungkap Woko (25), nelayan asal Pemalang.

Ia mengharapkan, pemerintah memperhatikan keadaan aliran sungai dan PPI, karena Tambak Lorok merupakan sumber untuk mencari nafkah kebanyakan warga yang berprofesi sebagai nelayan ataupun nelayan dari luar kota.

”Jika memang Tambak Lorok ingin maju dan PPI baru dapat dimanfaatkan, seharusnya pemerintah perhatian dengan melakukan upaya mengeruk sampah atau apa pun yang membuat aliran sungai di PPI baru dangkal,” tandas Zamroni. (K3-37)

Warga Tambaklorok Protes Minta Talut Polder Banger

26 Nopember 2010
Warga Tambaklorok Protes
Minta Talut Polder Banger
SEMARANG - Warga Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Emas protes. Pasalnya, pembangunan talut yang menjadi subsistem Polder Banger sampai sejauh ini belum direalisasikan.

Perwakilan warga yang tergabung dalam Forum Warga Tambaklorok (FWT) mengadukan permasalahan tersebut kepada DPRD Kota Semarang. Perwakilan diterima Wakil Ketua DPRD, Djunaedi di ruang kerjanya.

Juru bicara FWT, Joko Wahyono mengatakan, saat dimulainya pengerjaan Polder Banger, pihak Pemkot menjanjikan membangun pula talut di sekitar Tambaklorok untuk penanganan rob. Secara desain, talut tersebut mengitari wilayah kampung, mulai dari samping Kali Banger sampai muara Banjirkanal Timur.

Warga khawatir, bila pembangunannya hanya terfokus pada polder tentunya kawasan kampung akan jadi langganan rob, mengingat setelah pembangunan polder mendekati akhir, Kali Banger akan ditutup.
Dengan begitu rob justru masuk ke wilayah perkampungan. ’’Selama ini keberadaan Kali Banger menjadi tampungan rob. Kalau kemudian ditutup, tentu air justru masuk ke kampung,’’ katanya.

Beralasan

Tuntutan warga ini, lanjut Joko, sebenarnya cukup beralasan. Saat sosialisasi rencana pembangunan Polder Banger, Bappeda yang saat itu diwakili M Farchan menyebutkan, untuk pembangunan talut harus bersamaan dengan polder.
Nantinya tinggi talut sekitar 2,5 meter. Namun saat ini pembangunan polder sudah dimulai, namun pembangunan talut belum ada apa-apanya.

Dia mengharapkan agar Pemkot segera membangun talut untuk melindungi warga Kampung Tambakorok yang dihuni sekitar 11.000 jiwa ini.

Apalagi Tambaklorok menjadi salah satu sentral penghasil ikan laut Kota Semarang.
Sekretaris FWT, Agus Salim menimpali, untuk wilayah Tambaklorok telah mengalami penurunan muka tanah yang mencapai 15 cm per tahun.

Bila rob masih terus masuk, tentu penurunan itu semakin cepat. ’’Kami mohon ada kejelasan soal talut. Kami protes karena dulu Pemkot pernah menjanjikan,’’ kata dia.
Menanggapi itu, Djunaedi SH menyatakan, Pemkot harus memberi perhatian serius dengan keluhan masyarakat itu.
’’Kalau memang sudah dijanjikan akan dibangun secara bersamaan dengan pembangunan polder, ya harus dilaksanakan.’’ (H37,H35-16)

Hemat BBM, PLTGU Tambaklorok Akan Diistirahatkan

Tunggu Instruksi Dirut PLN
Hemat BBM, PLTGU Tambaklorok Akan Diistirahatkan






PLTGU TAMBAKLOROK: Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambaklorok masih beroperasi, Selasa (11/1). Rencananya, PLTGU Tambaklorok yang tiap harinya menggunakan 2.000 kiloliter minyak cair akan diistirahatkan untuk m

Semarang, CyaberNews. Rencana pengistirahatan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambaklorok oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam rangka pengurangan konsumsi bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik sebesar satu juta kiloliter pada tahun 2011, rupanya masih menunggu instruksi dari Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan.

Menurut Manager SDM dan Humas PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Semarang, Abdul Djamil, sampai saat ini PLTGU Tambaklorok masih beroperasi dan memasok sekitar 30 persen kebutuhan listrik di Jawa Tengah dan DIY.

"Kami masih menunggu instruksi dari Dirut. Lagipula pembangkit baru pengganti pasokan daya dari PLTGU Tambaklorok seperti PLTU Rembang, PLTU Cilacap, dan PLTU Tanjung Jati B di Jepara sampai saat ini masih sampai tahap penyelesaian," ujarnya, Selasa (11/1).

PLTGU Tambaklorok selama ini menggunakan bahan bakar minyak cair untuk menjalankan mesin-mesin PLTG. Kebutuhan minyak cair per harinya mencapai 2.000 kilo liter. "Jumlah tersebut memang cukup besar. Karena itu pengurangan konsumsi BBM oleh PLN diharapkan bisa menghemat subsidi listrik Rp 6 triliun," kata dia.

Bila nantinya PLTGU Tambaklorok yang berdiri di atas lahan seluas 30 hektare diistirahatkan, mesin-mesin pembangkit tetap akan dirawat dan dipelihara seperti biasa. Sebab mesin masih produktif dan bisa digunakan. "Kami belum tahu nanti apakah mesin yang diistirahatkan akan digunakan untuk simulasi pendidikan atau untuk mendukung suplai daerah lain seperti Sumatra, Kalimantan, dan Papua, dalam rangka pengembangan listrik daerah terpencil," tuturnya.

Semarang dan kota-kota lain di Jateng dan DIY pun tak perlu khawatir bila pasokan listrik akan berkurang. Sebab selain dipasok dari Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA) Sudirman di Banjarnegara, PLTA Gajahmungkur dan beberapa PLTA lain, dengan sistem interkoneksi jaringan 500 Kilovolt kebutuhan listrik dapat dipasok dari pembangkit listrik di wilayah Jawa Barat, dan Jawa Timur.

PLTGU Tambaklorok terdiri atas enam PLTGU dengan masing-masing berkapasitas 109,65 MW, dua PLTGU dengan masing-masing berkapasitas 109,65 MW, dua PLTU masing-masing berkapasitas 50 MW dan satu PLTU berkapasitas 200 MW. Dari sebelas pembangkit yang ada, jika beroperasi maksimal, Tambaklorok mampu menghasilkan listrik 1300 MW.

PLTGU Tambaklorok Akan Diistirahatkan Sementara

PLTGU Tambaklorok Akan Diistirahatkan Sementara



PLTGU Tambaklorok Akan Diistirahatkan Sementara


Menyusul makin mahalnya bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang digunakan, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tambaklorok Semarang rencananya akan diistirahatkan sementara. Nantinya dari solar, bahan bakar direncakan beralih ke gas sehingga modifikasi mesin harus dilakukan.

Kabid Ketenagalistrikan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Bambang Mandala Putra menjelaskan, sejalan dengan operasional PLTU Sluke Rembang (2x315 MW) maka PLTGU Tambaklorok akan dihentikan sementara secara bertahap.

"PLTGU ini tidak dimatikan, sekarang karena Sluke baru berjalan separuh saja, Tambaklorok mulai dikurangi. Nanti jika PLTU Sluke sudah operasional 100% maka PLTGU di Tambaklorok ini akan istirahat sementara,'' jelas Bambang, Senin (18/4).

Dia menuturkan, pihaknya masih belum bisa memerinci kapan modifikasi mesin dilakukan dan berapa jumlah investasi yang dibutuhkan. Namun ia menjanjikan, setelah diistirahatkan nanti PLTGU Tambaklorok masih bisa dimanfaatkan.

Selain di Tambaklorok, beberapa pembangkit yang nantinya juga akan diistirahatkan di antaranya PLTGU Muarakarang, PLTGU Muaratawar dan PLTGU Tanjung Priok yang menggunakan BBM sebagai bahan bakarnya.

Gas yang diproyeksikan bakal membantu operasional PLTGU nantinya, lanjut dia, akan disalurkan melalui pipanisasi yang diusplai dari Blora lewat Gundi di sepanjang rel kereta api.

Disayangkan Relokasi Warga Tambaklorok




01 Oktober 2011Share :
Disayangkan Relokasi Warga Tambaklorok
Rencana Pembangunan Dermaga
BALAI KOTA - Pemkot menyayangkan sikap PT Pelindo III yang akan memindahkan permukiman nelayan terkait pembangunan Dermaga Pelabuhan Tanjung Emas di kawasan Tambaklorok.

Pemindahan tersebut tidak bisa dilakukan serta merta, dan lebih baik dikoordinasikan dengan Pemkot.
”Itu terlalu prematur, semestinya koordinasikan dulu dengan wali kota. Prinsip, saya mendukung pembangunan pelabuhan karena untuk kepentingan umum,” ujar Wali Kota Soemarmo HS, kemarin.

Sebaliknya, kabar pemindahan warga Tambaklorok itu justru hanya menimbulkan keresahan. Permukiman Tambaklorok sendiri, saat ini kondisinya memang sudah tidak lagi memadai.
Kondisi pesisir makin parah, begitu pula dengan pemukiman warga. Bahaya abrasi mengancam setiap saat. Hampir setiap hari, rumah warga tergenang dengan rob. Dia sependapat pemukiman tersebut ditata, bukan digusur.

Lantas, bagaimana penataan yang dimaksud? Wali Kota menyatakan, Pelindo bersama Akpel perlu melakukan pengkajian. Bersama dengan provinsi, kedua pihak perlu duduk bersama. Terkait rencana gubernur yang mengarahkan relokasi warga Tambalorok ke Klipang, dia belum mengiyakan.
”Masih perlu pengkajian secara menyeluruh, mengingat mata pencaharian warga setempat adalah nelayan.”

Aset Pemkot

Jika warga Tambaklorok direlokasi jauh dari tempat mereka mencari nafkah, sama saja menyulitkan mereka. Meski begitu, Pemkot belum menyiapkan lokasi alternatif untuk pemeindahan mereka. Sebagai tambahan informasi, lahan seluas 20 hektare yang disewa Pelindo di Tambaklorok adalah aset Pemkot. Kontrak kerja sama berlaku selama 20 tahun dan berakhir pada 2018.
Di kawasan tersebut terisi hunian atau rumah-rumah penduduk baik permanen maupun semi permanen. Adapun Pemkot sendiri sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp 7 miliar, untuk penataan kawasan permukiman dan PPI Tambaklorok. Di antaranya meliputi penataan listrik, air, infrastruktur. (J9,H37-69)

Pembebasan Kampung Tambaklorok Tanggung Jawab Pemkot Share



Pembebasan Kampung Tambaklorok Tanggung Jawab Pemkot
Share

Semarang, CyberNews. Rencana pemindahan kampung Tambaklorok harus menunggu rencana induk (masterplan) yang sedang disusun oleh PT Pelindo III Cabang Pelabuhan Tanjung Emas. Pemkot Semarang mengaku sejauh ini belum bertindak apa pun, karena belum tahu konsep dari pengembangan dermaga.

General Manajer (GM) PT Pelindo III Cabang Pelabuhan Tanjung Emas Rsimature Sidabutar mengemukakan, penyusunan masterplan baru bisa dimulai sekarang ini. BUMN itu akan melibatkan Pemprov Jateng (Dishubkominfo), Administratur Pelabuhan (Adpel) dan Pemkot Semarang.

"Konsep masterplan-nya bagaimana, itu yang menjadi acuannya. Tapi yang jelas pemindahan kampung Tambaklorok tetap dilakukan, karena kawasan tersebut masuk wilayah pengembangan pelabuhan," kata dia, Selasa (4/10).

Pihak yang bertanggungjawab dalam pembebasan lahan itu sepenuhnya diserahkan kepada Pemkot Semarang. Dengan begitu mulai sosialisasi, pembayaran lahan sampai penempatan lokasi baru tidak menjadi tanggungan Pelindo. "Soal itu
sudah menjadi arahan bapak gubernur. Pemkot menangani soal kemasyarakatannnya sedang kami pada pengembangan fisik pelabuhan," lanjut Rismature.

Namun demikian, ia tidak memberikan gambaran mengenai dimulainya tahapan pengembangan pelabuhan. "Tunggu masterplan dulu."

Gubernur Bibit Waluyo dalam sebuah kesempatan telah menegaskan bahwa Real Estat Indonesia (REI) Jateng telah setuju untuk membantu pemindahan warga masyarakat di sekitar pelabuhan lewat program perumahan murah yang lokasinya di Kecamatan Tembalang.


04 Oktober 2011 | 20:45 wib

 
TAMBAK LOROK TANJUNG MAS KOTA SEMARANG TOTTAL SUWUNG JENAZAH IRUL ANAXDURHACHA ORADOMADFU